BN Indonesia - Umbu Landu Paranggi setia meresapi kesunyian. Banyak penyair, terutama di Yogyakarta dan Bali, menikmati “taman kesunyian Umbu”. Sebuah taman nan leluasa, yang terus-menerus memancarkan geriap daya kebudayaan bagi tumbuh kembang kreativitas.
Arif Rahman
Alumnus Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Bergiat di organisasi Omah Aksara Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta.
Taufik Ismail, seorang sastrawan senior redaktur majalah sastra Horison, pada 1970 menulis sebuah sajak berjudul “Beri Daku Sumba”. Sajak nan ditulisnya itu adalah sajak kerinduan. Di dalam sajaknya itu dia melukiskan bentangan alam Sumba dengan begitu hidupnya. Simaklah penggalan puisinya berikut ini: … // Rinduku pada Sumba adalah kangen padang-padang terbuka / Dimana bola api, cuaca kering dan ternak melenguh / Rinduku pada Sumba adalah kangen seribu ekor kuda / Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit nan jauh //
Saya membaca sajak itu dari kitab Laut Biru, Langit Biru (Pustaka Jaya, 1977), bunga rampai sastra susunan Ajip Rosidi. Belakangan, saya ketahui bahwa Taufik Ismail mengunjungi Sumba pada 1990, terpaut 20 tahun sejak dia menulis sajak itu. Dengan kata lain, ia belum pernah mengunjungi Sumba ketika menuliskan sajaknya. Lantas, bagaimana mungkin seseorang bisa merindu jika belum pernah berjumpa?
Rupanya, yang dimaksudkan Taufik Ismail itu bukanlah kerinduannya pada Sumba, akan tetapi tertuju kepada seorang penyair nan mengingatkannya bakal pulau di Indonesia Timur itu. Dia adalah Umbu Landu Paranggi, seorang penyair nan memang berasal dari Sumba. Di dalam raut muka laki-laki gondrong nan berparas kelam jantan itu memang terlihat bentangan padang-padang terbuka, yang selalu bergairah dengan cuaca kering dan ternak nan melenguh lantaran bola api (matahari) yang senantiasa menggelora, yang adalah kuda-kuda nan berpacu dengan bebas menggemuruh di kaki-kaki bukit. Umbu, dalam gambaran Taufik Ismail, adalah Sumba itu sendiri.
***
Siapakah Umbu? Namanya memang terdengar samar-samar dalam sejarah sastra Indonesia. Namun, ia dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan kehidupan sastra kita. Seorang penyair nan dinilai sangat krusial dalam bumi sastra Indonesia modern.
Umbu Landu Paranggi, dalam Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern 3 (1987), susunan Linus Suryadi AG, disebutkan mulai menulis sajak sejak kedatangannya di Yogyakarta pada 1959. Di kota ini, Umbu terkenal dengan sebutan “Presiden Malioboro”. Julukan ini mengenai dengan sebuah organisasi sastra berjulukan Persada Studi Klub (PSK) yang dia dirikan berbareng ketaatan Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, dan Suwarna Pragolapati pada 1969. Kegiatan PSK terutama berpusat di seberang hotel Inna Garuda, depan instansi mingguan Pelopor Yogya di Jalan Malioboro 175, tempat Umbu bekerja.
Seperti Taufik Ismail nan terkenang kepada Umbu ketika membayangkan Sumba, ada ratusan penyair lainnya nan bakal tergores kenangannya ketika mendengar kata “Malioboro”. Gambaran situasi ini misalnya tercermin oleh ungkapan Arwan Tuti Artha dalam Yogyakarta Tempo Doeloe: Sepanjang Catatan Pariwisata (2000) yang mengatakan bahwa kehadiran Umbu Landu Paranggi memang menciptakan kehidupan sastra di Yogyakarta menjadi bergairah. Karena Umbu, baca puisi pun menjadi mewabah, masuk desa, masuk kampus. “Hampir susah menciptakan suasana serupa pada masa sekarang ini, ketika kehidupan sudah berubah menjadi sangat kompetitif,” kenangnya.
Singkatnya, Umbu sukses menggelorakan “api sastra” di Yogyakarta kala itu (1969-1975/1977). Beberapa nama nan menonjol dari Persada Studi Klub diantaranya Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, dan Yudhistira Ardhi Nugraha. Tercatat pula nama Ebiet G Ade dan Agus murah hati T. Emha Ainun Nadjib menuliskan bahwa di PSK ada 100-an orang penyair nan berbakat dan 30-an nan menginti. Anda bisa melakukan pencarian sendiri untuk mengetahui siapa saja orang-orang nan dimaksud Emha itu. Catatan Suwarna Pragolapati apalagi menunjukkan info nan cukup mencengangkan: sampai tahun 1975, lebih dari 1500 penulis tergabung dalam “akademi jalanan” Malioboro ini.
Informasi lain nan bisa saya tambahkan adalah Umbu pensiun menjadi “Presiden Malioboro” sejak dia lenyap meninggalkan Yogya pada 1975. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi kembali ke Yogyakarta. Kemudian dia diketahui muncul untuk melanjutkan “laboratorium” sastranya di Bali lewat ruang sastra Bali Post (1977 – hingga sekarang).
Sehingga, jika direntang kembali jarak kepenyairannya telah begitu panjang, yaitu sejak dia mengawali kehidupan sastranya di pelataran Malioboro Yogyakarta hingga sekarang dia mengembuskan diri berbareng keheningan dan kesucian Pulau Dewata. Namun, satu perihal nan selalu setia dia lakukan: meresapi kesunyian. Kesunyian? Ya, kesunyian adalah derap kehidupan Umbu.
Mungkin saya terlalu berani mengatakan bahwa derap kehidupan Umbu adalah kesunyian. Namun, izinkanlah saya berdasar bahwa saya dan generasi seangkatan saya adalah generasi masa sekarang nan tidak mengenal romantisme pelataran Malioboro era PSK dulu. Pun, saya juga tidak mengalami masa sastra modern nan dibawa Umbu untuk disemai di tanah Bali. Maka, ikhtiar saya beranjak ke tema kesunyian untuk memaknai derap kehidupan Umbu nan telah memberi warna bagi banyak manusia dan nilai kemanusian itu sendiri.
***
Mengapa kesunyian? Saya berpijak pada tulisan Putu Fajar Arcana di harian Kompas, Minggu, 18 September 2012, berjudul “Berumah dalam Kata-Kata”. Putu Fajar Arcana merupakan anak didik Umbu di Bali sehingga dia meresapi betul-betul apa nan diungkapkan Umbu dan kemudian menuliskannya. Di dalam tulisan itu, Umbu berucap, “Gede Prama pernah menulis, sepi nan mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan nan luar biasa, sepi bukan berfaedah kosong, tetapi justru penuh geriap daya di dalamnya.”
Namun, sebentar. Bukankah Umbu hanya mengutip kata-kata orang lain? Pun nan dimaksud Umbu bukanlah “sunyi”, melainkan “sepi”. Hal inilah nan bakal saya coba uraikan. Ketika Umbu mengutip filosofi tertentu, maka dia tak sekadar meresapinya, tetapi mewujudkannya dalam derap kehidupannya. Dan mengenai sepi, rasa-rasanya saya setuju dengan paragraf pembuka Putu Fajar Arcana, yang tampaknya merupakan penilaiannya atas pilihan hidup Umbu. “Penyair selalu menempuh jalan dengan misi suci. Sunyilah nan menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan nan dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas,” tulisnya. Sehingga, saya condong lebih memilih “sunyi” daridapa “sepi” untuk mencoba memindai pilihan hidup Umbu.
Sudah nyaris 60 tahun Umbu mengabdikan diri untuk kecintaannya kepada puisi sejak dia mengasuh “akademi jalanan” Malioboro. Bagi seorang penyair nan setengah-setengah, tentu saja tak bakal bisa dia melewati masa nan begitu panjangnya dengan penuh totalitas untuk berkarya. Sebuah pertanyaan kemudian muncul, apa nan menyebabkannya mempunyai kekuatan berkarya nan luar biasa? Namun, bisa saja kemudian kita memburu dengan pertanyaan lain, apa saja karya Umbu? Sedangkan, sebagaimana kita tahu, publik sastra sendiri saja hanya mengenal dan mengapresiasi Umbu secara samar-samar saja. Karena, susah sekali kita menemukan karya Umbu secara utuh, baik puisi, esai, cerpen, atau karya lainnya dalam pengarsipan sastra kita, baik nan berupa stensilan alias nan telah dibukukan.
Memang, ada beberapa karya Umbu nan sampai sekarang terdokumentasi dengan baik, salah satunya di dalam antologi Tonggak susunan Linus Suryadi AG. Selebihnya, kita hanya bisa mengintip samar-samar karya Umbu dari beberapa penulis eks PSK. Sumber lainnya, ada di Majalah Sabana jenis Februari 2015, majalah nan beberapa tahun terakhir ini mulai dihidupkan kembali ini memang menyimpan beberapa kilas cerita mengenai romantisme sastra Yogyakarta nan cukup berharga.
***
Kembali kepada tema kesunyian. Umbu tidak menerjunkan diri kepada kehidupan ramai, tidak menyerahkan dirinya kepada keterkenalan, atau mendeklamasikan sajak-sajaknya untuk kemauan mengubah dunia. Jika kita menyimak kembali kata-kata Chairil Anwar, bahwa “nasib adalah kesunyian masing-masing”, sekiranya Umbu pun hendak menyatakan bahwa nasib setiap orang telah digariskan dan tugas manusia hanyalah mengikuti aliran nasib masing-masing itu dengan sebaik-baiknya. Ada wilayah rohani nan tidak hendak diserahkan kepada kehidupan orang ramai. Wilayah rohani itulah nan merupakan kesunyian masing-masing dari setiap orang.
Simaklah misalnya penggalan sajaknya, “Melodia”, sebagai berikut: /… baiknya mengenal bunyi sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana/ sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja…// Bagi Umbu, manusia sebagai perseorangan per perseorangan seyogianya mengenal dirinya sendiri, menjadi tuan rumah nan berdaulat untuk dirinya sendiri. Karena itulah dia belajar puisi. “Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita,” kata Umbu.
Menjadi pribadi nan berdaulat itu menjadi sangat krusial untuk mengarungi gemuruh kehidupan. Sehingga, manusia tidak kehilangan eksistensi dirinya dan digantikan alias luruh ke dalam geriap politik, industri, kapitalisme, dan sebagainya. Dengan berpuisi, ia hendak menggapai kemauan nan sederhana saja: menjadi manusia. Simaklah penggalan puisinya, Cakrawala Itu Kembali Menggoda, berikut ini: /… Barangkali inilah nan kita impikan sejak mula pertama/ barangkali engkau bakal bertanya-tanya dan saya pun pasti bertanya-tanya/ memandang engkau sebagai engkau, memandang saya sebagai saya dan akhirnya memandang kita sebagai kita: Manusia//
***
“Di tahun 1973 puluhan puisinya bakal dimuat oleh Majalah Horison, elite media sastra di era 1970-an. Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat berprasangka kepada kemasyhuran dan popularitas,” kata Emha Ainun Nadjib dalam esainya “Presiden Malioboro” (Kompas, 16 Desember 2012).
Mungkin keterangan Emha tersebut bisa menjadi penjelasan kenapa Umbu menjadi penyair nan samar-samar dalam sejarah sastra kita. Ketika menjadi terkenal, Umbu takut bakal kehilangan eksistensi dirinya sebagai manusia. Ketakutan Umbu itu sesuai dengan apa nan diungkapkan oleh Hamid Jabbar dalam puisinya tentang Jakarta. “Terjuni keriuhan nan paling gila tapi minta bersiap masuk sepi,” katanya. Jakarta, sebagaimana nan kita kenal sekarang, memang memanggil-manggil kita dengan geriap keramaian sekaligus geliat ekonomi nan tak pernah tidur. Namun, di dalam keramaian itu kita menjadi bagian dari angka-angka.
Manusia saling berjumpa tanpa mengenal satu sama lain. Dan pada akhirnya, banyak orang nan kehilangan kedirian dirinya, digantikan menjadi makhluk ekonomi alias makhluk industri. Di dalam keramaian itulah kita memasuki kesepian.
Sebagaimana keramaian, ketenaran juga menakutkan bagi Umbu. Ketenaran menakut-nakuti manusia untuk tercerabut dari kediriannya; atau setidaknya membuatnya sibuk untuk memenuhi perhatian orang ramai. Pun ketenaran menyebabkan seorang manusia dibedakan dari manusia lainnya, sehingga tidak lagi bebas dia sebagai individu.
Begitulah Umbu memasuki kesunyian. Untuk itulah, mungkin, ia melepaskan gelar kebangsawanannya: sebagai putra mahkota salah satu kerajaan di Sumba. Keluarganya di Sumba apalagi kudu menunggu penguburan ayahnya selama setahun lantaran kesulitan menemukan jejak keberadaan Umbu. Umbu, menurut penilaian Emha, menjalani kehidupan zuhud. “Saya mengenalinya sebagai ‘zuhud’: berpuasa dari kemewahan dan gegap gempita dunia. Ia meninggalkan harta, kekuasaan, wanita, kemasyhuran, dan menyimpan duit dalam bungkusan plastik dipendam di tanah,” kenangnya.
***
“Sepi bukan berfaedah kosong, tetapi justru penuh geriap daya di dalamnya.” Saya tergoda untuk menyajikan kembali kata-kata nan dikutip Umbu ini. Di dalam kesunyiannya, Umbu berkarya. Siapa nan sangka jika “akademi jalanan” yang diasuh Umbu di pelataran Jalan Malioboro itu sekarang menjadi pijar-pijar nan terang bagi kesusastraan nasional kita. Nah, dalam gambaran saya nan sejak usia logika sudah mengenal Malioboro sebagai pusat ekonomi dan perbelanjaan, tentu saja kandas memasuki dimensi suasana bahwa Malioboro pernah menjadi pusat sastra Yogya.
Di dalam kebebasan berkaryanya, Umbu bisa menghidupkan organisasi sastra nan penuh geriap energi. Bisakah Anda membayangkan bahwa Malioboro nan sekarang ini penuh keramaian pernah menjadi tempat belajar sastra bagi lebih dari 1500 penulis? Bagaimanakah langkah mereka belajar sastra, apakah dengan lesehan, berdiri, atau melangkah di belakang Umbu? Akh, tentu saja kita bakal kandas untuk mengimajinasikannya.
”Wuih… Itu Malioboro memang seperti memanggil-manggil…,” kata Umbu. Wah, bagaimana semaraknya suasana waktu itu?
Iman Budhi Santosa, kolega Umbu nan turut mendirikan PSK, dalam seremoni 47 Tahun Persada Studi Klub, menyatakan bahwa apa pun nan pernah didengar mengenai penilaian terhadap sosok Umbu, pasti bakal meleset. Kata Iman, Umbu adalah embusan angin. Kita tidak bisa menebak dia datangnya dari mana, berwujud seperti apa, dan menuju ke arah mana. Kita hanya dapat merasakannya.
Apa pun penilaian nan terlontar mengenai Umbu bisa jadi semuanya salah. Siapa nan menjamin jika Umbu setuju dengan julukan “Presiden Malioboro”, “Kuda Putih”, atau gambaran dirinya sebagai “Sumba”? Tentu saja kita hanya bisa menerka pesonanya. Umbu adalah Umbu. Dan kesunyiannya, sebagaimana nasib, adalah kesunyian nan memang berkarakter masing-masing: tak terduga dan tak terjamah oleh nan lain.
Namun, satu hal: Umbu mengagumi dan terpengaruh oleh Ki Hadjar Dewantara. Sejak di Yogya sampai sekarang ini di Bali dia hanya membangun “taman”. Sebagaimana kita tahu, Ki Hadjar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Indonesia. Ia diasingkan di negeri Belanda lantaran tulisannya nan berjudul Als ik eens nederlander was (Andai saya Seorang Belanda). Sekembalinya di tanah air, ia mendirikan perguruan Tamansiswa.
Nah, asas-asas Tamansiswa inilah nan menginspirasi Umbu. Meskipun demikian, Umbu bukanlah peniru nan latah. Ia menerjemahkan konsep pendidikan Ki Hadjar ialah ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh yang bisa langsung diterapkan, di tengah membangun, di belakang memberi dorongan) menjadi semangat asih-asuh-asah, konsep nan memang telah disesuaikan dengan semangat zaman. Persada Studi Klub adalah Tamansiswa-nya Umbu. Begitu juga laboratorium sastranya di Bali. Dan alumni PSK serta anak didik Umbu di Bali nan sekarang menyebar ke seantero penjuru tanah air juga tengah melestarikan dan membangun taman kebudayaannya sendiri. Maka, meskipun kita tidak pernah bersenggolan dengan Umbu secara personal, sekarang ini kita tengah menikmati “taman kesunyian Umbu”. Sebuah taman nan leluasa, yang terus-menerus memancarkan geriap daya kebudayaan bagi tumbuh kembang kreativitas.
Yogyakarta, 27 November 2017
Penulis & Editor : (Bn)
Refrensi Berita (komunitassastra.wordpress.com)
7 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·