Seratus Tahun A.a. Navis Dan Alasan Kita Perlu Membacanya Lagi Hari Ini

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Peringatan satu abad A.A. Navis yang membuka ruang baca baru

BN Indonesia - Satu abad kelahiran Ali Akbar Navis bukan sekadar seremoni, melainkan momen untuk menilai ulang warisan satranya: mengapa cerpen-cerpennya masih terasa hidup, menggigit, dan relevan bagi pembaca lintas generasi.

Dalam rangka peringatan 100 tahun hari lahir A.A. Navis, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen RI bersama UNESCO menggelar bedah buku bertajuk “Membaca Kembali A.A. Navis: Sastra, Satir, Spiritualitas”. Diskusi dipandu Dewi Kharisma Michellia dengan dua narasumber, Hilmi Faiq (editor sastra-budaya) dan Avianti Armand (penulis serta Redaktur Utama tengara.id).

Forum ini bertumpu pada Antologi Komplit Cerpen A.A. Navis yang dihimpun Ismet Fanany dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Antologi tebal ini dibaca bukan hanya sebagai arsip, tetapi sebagai peta gagasan: bagaimana Navis mengolah realitas sosial Minangkabau menjadi persoalan universal tentang iman, kuasa, kemanusiaan, dan kemunafikan.

Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Sastra dan Budaya

Antologi komplit dan efek “connecting the dots” dalam membaca Navis

Membaca karya yang dikumpulkan dalam satu volume memberi pengalaman berbeda dibanding menikmati cerpen-cerpen Navis secara terpisah. Hilmi Faiq menekankan bahwa ketebalan buku justru menolong pembaca menemukan “garis merah” yang selama ini berserak. Dari sana terlihat bahwa satir Navis bukan sekadar kelakar, melainkan cara kerja pikiran yang konsisten: menguji klaim-klaim moral, lalu memperlihatkan retaknya lewat nasib tokoh-tokohnya.

Garis merah itu tampak pada dua perhatian besar. Pertama, kritik terhadap religiusitas yang berhenti di ritual, seolah hubungan dengan Tuhan bisa dipisahkan dari tanggung jawab pada manusia. Kedua, kepedulian pada martabat manusia dalam wujud yang konkret: kehidupan keluarga, nasib perempuan, hingga luka sosial yang diam-diam diwariskan dalam budaya.

Yang membuat pembacaan antologi terasa “ringan tapi menohok” adalah gaya tutur Navis yang tidak menggurui. Ia mendongeng seperti kawan lama: bahasanya mudah dicerna, alurnya lincah, tetapi di ujung cerita pembaca sering dipaksa menelan rasa getir. Kesan tertawa kecut itu muncul karena satire Navis bekerja sebagai cermin, bukan palu: pembaca merasa disindir tanpa diberi ceramah.

Satir, spiritualitas, dan kritik terhadap iman yang transaksional

Diskusi menempatkan “Robohnya Surau Kami” dan “Man Rabuka” sebagai dua titik pijak penting. Keduanya memperlihatkan kritik Navis terhadap cara beragama yang menjadikan ibadah sebagai “tiket” keselamatan, sementara urusan sesama dikesampingkan. Dalam cara bercerita yang berbingkai—meminjam tokoh-tokoh anekdotal sebagai pemantik—Navis memprovokasi pembaca untuk menguji ulang keyakinan yang dianggap mapan.

Namun kritik itu tidak berhenti pada gagasan. Navis menunjukkan akibat sosial dan psikologis dari iman yang rapuh: seseorang bisa tampak saleh, tetapi goyah ketika berhadapan dengan pertanyaan moral yang mengusik. Di titik ini, satir Navis berfungsi sebagai perangkat pembongkar: ia menyasar paradigma, bukan individu, dan mengajak pembaca mengukur kembali arti “beragama” dalam kehidupan sehari-hari.

Forum juga menyoroti bahwa Navis kerap menembus wilayah yang di zamannya dianggap berbahaya. Justru di situlah watak reformisnya terbaca. Ia tidak menempatkan Tuhan sebagai sosok yang perlu “dibela” lewat kemarahan, melainkan sebagai horizon etik yang menuntut manusia lebih manusiawi. Spiritualitas dalam karya Navis tampil sebagai tanggung jawab sosial, bukan sekadar penegasan identitas.

Kepengrajinan yang sering luput dari pelajaran sastra di sekolah

Avianti Armand menggarisbawahi hal yang jarang dibicarakan ketika Navis dibaca di ruang kelas: kepengrajinan. Ia menilai pembacaan sastra di sekolah kerap dipersempit menjadi “pesan moral”, padahal cerita hidup karena teknik. Pada Navis, teknik itu tampak sejak paragraf pertama yang menyentak, deskripsi yang presisi, serta kemampuan membangun suasana dengan perincian yang membuat pembaca serasa “dibawa” ke lokasi peristiwa.

Strategi cerita berbingkai menjadi salah satu kekuatan utama. Dengan cara ini, narator seperti melempar tanggung jawab penceritaan kepada tokoh lain, sehingga cerita bisa menjadi “bola liar” yang bebas mengekspos kemunafikan, kebiasaan sosial, atau logika iman yang timpang. Selain itu, Navis piawai menyimpan kejutan. Plot twist hadir bukan sebagai trik murahan, melainkan bagian dari logika cerita yang tetap masuk akal, namun mengubah cara pembaca memandang seluruh peristiwa.

Kepengrajinan inilah yang membuat cerpen-cerpen Navis tidak lekang. Bahkan ketika latar waktunya jauh, diksi dan metaforanya masih terasa segar. Ia menulis dengan energi yang membuat pembaca masa kini tetap bisa takjub: bagaimana seorang pengarang pada dekade 1950-an mampu menyusun kalimat yang begitu lincah, ekonomis, dan tajam.

Relevansi lintas zaman dan jejak pengaruh pada penulis hari ini

Dalam diskusi, muncul juga nama-nama penulis yang dipandang memiliki irisan keberanian atau teknik dengan Navis, seperti Raudal Tanjung Banua, Damhuri Muhammad, hingga Febi Indirani. Penyebutan ini penting karena mengukur ketokohan tidak cukup lewat reputasi masa lampau, tetapi juga lewat jejak pengaruh pada generasi berikutnya.

Navis, pada akhirnya, menawarkan sesuatu yang langka: kritik sosial yang tidak kehilangan rasa manusia. Ia berbicara tentang agama, birokrasi, feodalisme, pernikahan, gegar budaya, sampai penderitaan rakyat, dengan spektrum tema yang luas. Tetapi di balik keragaman itu, ada satu suara yang konsisten: suara manusia yang menolak diperas menjadi angka, status, atau label kesalehan.

Karena itu, membaca Navis hari ini bukan nostalgia. Ia bisa menjadi latihan literasi sosial untuk pembaca muda: memahami bagaimana satire bekerja, bagaimana simbol dibangun, dan bagaimana karya sastra dapat menjadi alat refleksi tanpa harus berubah menjadi poster propaganda.

Takeaways untuk pembaca muda, pendidik, dan ruang publik

Peringatan 100 tahun A.A. Navis melalui forum ini mengingatkan bahwa karya besar tidak selesai di rak buku. Ia menunggu dibaca ulang dengan pertanyaan baru. Bagi pembaca muda, Navis menyediakan pintu masuk yang menyenangkan sekaligus menggelisahkan: kisah-kisahnya enak diikuti, namun meninggalkan residu pertanyaan tentang iman, kuasa, dan moralitas.

Bagi pendidik, diskusi ini memberi isyarat agar pengajaran sastra tidak berhenti pada “moral of the story”. Justru yang perlu dirawat adalah kepekaan pada cara cerita bekerja: bagaimana paragraf pembuka memikat, bagaimana deskripsi menanamkan impresi, dan bagaimana struktur berbingkai menciptakan ruang kritik yang aman sekaligus tajam.

Dan bagi ruang publik, Navis adalah pengingat bahwa kritik paling efektif sering datang lewat cerita. Satir yang baik tidak menurunkan martabat orang lain, tetapi menelanjangi kebiasaan sosial yang merugikan manusia. Itulah alasan mengapa membaca kembali A.A. Navis masih terasa mendesak, terutama ketika masyarakat mudah terpolarisasi dan cenderung menyederhanakan masalah.

Penulis & Editor : (Bn)

↑