Indonesia Di Panggung Dunia: Menggunakan Sastra Dan Gastronomi Sebagai Alat Diplomasi

Sedang Trending 8 bulan yang lalu

BN Indonesia - Pernahkah Anda membaca sebuah novel yang begitu hidup menggambarkan aroma kopi, suasana pasar tradisional, atau bahkan momen yang membawa Anda kembali ke kampung halaman hanya dengan satu suapan makanan? Inilah keajaiban yang muncul ketika sastra dan gastronomi bersatu; keduanya lebih dari sekadar produk budaya mereka adalah arsip hidup yang menyimpan nilai, ingatan, dan cerita dari sebuah bangsa.

Sastra dan gastronomi memiliki kekuatan untuk membangun jembatan pemahaman yang melampaui batas bahasa, ras, dan politik. Dalam konteks diaspora, di mana identitas sebuah bangsa sedang diperkenalkan kepada dunia, muncul tantangan besar: bagaimana sebuah bangsa dengan keragaman yang luar biasa tetap bisa memperkenalkan dirinya tanpa kehilangan esensi dan jiwanya?

Pertanyaan ini mencuat dalam sebuah gelar wicara bertajuk "Dari Kata ke Rasa: Diplomasi Budaya Indonesia Melalui Sastra dan Gastronomi," yang diselenggarakan di Jakarta pada 23 Desember 2025. Acara ini mempertemukan dua dunia yang kaya—sastra dan gastronomi yang ternyata memiliki ikatan erat dalam menggambarkan identitas suatu bangsa.

Gastronomi Sebagai Cermin Masyarakat

Roland Barthes pernah mengatakan bahwa makanan bukan sekadar benda yang dikonsumsi, tetapi juga sebuah sistem tanda dan mitos. Makanan, menurutnya, bisa menjadi cermin masyarakat itu sendiri. Pernyataan ini bisa kita rasakan langsung saat kita duduk bersama keluarga atau teman di meja makan.

Ambil contoh tumpeng, makanan tradisional yang sering muncul dalam perayaan. Tumpeng dengan bentuk kerucutnya bukan hanya soal estetika, tetapi melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Ayam ingkung yang disajikan utuh menggambarkan kesempurnaan hidup. Setiap elemen dalam hidangan ini memiliki makna lebih dari sekadar rasa mereka membawa pesan tentang solidaritas, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur.

Gastronomi, dalam hal ini, bukan hanya sekadar makanan, melainkan teks budaya yang kaya makna. Seperti sastra yang menyampaikan cerita melalui kata-kata, gastronomi menggunakan rasa, aroma, dan tekstur untuk menyampaikan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga Berita Lain:Informasi Tentang Berita Sastra dan Budaya

Gastronomi Sebagai Diplomasi Budaya

Di era yang semakin maju dengan teknologi, rasa tetap menjadi elemen yang tak tergantikan. Ini adalah kesempatan besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan gastronomi sebagai alat diplomasi budaya, atau yang kini dikenal dengan istilah gastrodiplomasi.

Negara-negara seperti Thailand, Korea Selatan, dan Jepang telah sukses menggunakan kuliner mereka sebagai alat diplomasi budaya. Hidangan seperti tom yum, kimchi, dan sushi bukan hanya dianggap makanan lezat, tetapi juga simbol identitas nasional yang dipromosikan secara global melalui restoran, festival, dan program pertukaran budaya.

Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa, memiliki kekayaan gastronomi yang luar biasa. Setiap hidangan, mulai dari gudeg di Yogyakarta, soto lamongan di Jawa Timur, hingga dangke di Sulawesi Selatan, menyimpan filosofi hidup dan kearifan lokal yang dapat membawa dunia lebih dekat dengan Indonesia.

Tempe, misalnya, yang sedang diusulkan untuk menjadi warisan budaya takbenda UNESCO, adalah contoh nyata bagaimana makanan sederhana membawa misi keberlanjutan dan ekspresi kearifan lokal yang mendalam.

Diplomasi Budaya yang Terpadu

Di sisi lain, Endah T.D. Retnoastuti, Direktur Jenderal Diplomasi dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, mengungkapkan bahwa diplomasi budaya Indonesia masih dalam tahap pencarian format yang tepat. Tantangannya, menurutnya, adalah keterpaduan arah dan prioritas diplomasi budaya yang belum terkoordinasi secara sistematis.

Menurut Endah, masih belum ada sistem yang mampu mengukur capaian diplomasi budaya secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, ia menyarankan agar Indonesia mulai mengembangkan laporan tahunan semacam Indonesia Cultural Influence Report untuk menilai sejauh mana budaya Indonesia berpengaruh di dunia.

Sastra sebagai Cermin Peradaban

Sastra, menurut Kamapradipta Isnomo, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial Budaya, adalah roh atau jiwa sebuah bangsa. Sastra adalah cermin sejarah, sosiologi, dan peradaban suatu negara. Sementara itu, gastronomi adalah refleksi temperamen dan emosi bangsa tersebut. Ketika kita melihat makanan dengan penyajian yang indah, kita bisa langsung mengidentifikasi bahwa bangsa tersebut memiliki peradaban yang tinggi.

Meningkatkan Literasi dan Preservasi Naskah

E. Aminudin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional, juga mengangkat isu penting tentang literasi dan preservasi naskah-naskah kuno. Dari 143.000 naskah yang tercatat, sebagian besar tersimpan di luar negeri, sementara minat baca masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional memulai langkah strategis dengan mengalihwahanakan naskah-naskah kuno menjadi komik untuk menarik minat baca masyarakat.

Sastra dan Gastronomi dalam Diplomasi Budaya

Yani Kurniawan, anggota Tim Promosi Sastra Indonesia di Luar Negeri, menceritakan bagaimana promosi sastra Indonesia sesungguhnya berjalan lebih lewat percakapan kecil antareditor, penerjemah, dan penerbit daripada lewat kemegahan stan pemerintah di pameran internasional. Ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya Indonesia berjalan secara alami, dengan pendekatan yang lebih personal dan terkoneksi langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam dunia sastra.

Kekuatan Kolaborasi dalam Diplomasi Gastronomi

Vita Datau, pendiri Indonesia Gastronomy Network, menekankan bahwa untuk memajukan diplomasi gastronomi, Indonesia perlu membangun kolaborasi lintas sektor. Pemerintah harus berperan sebagai enabler, sektor swasta sebagai amplifier, dan komunitas serta akademisi sebagai penjaga nilai dan pengetahuan. Tanpa tata kelola yang baik, kuliner Indonesia akan tetap viral di dalam negeri, namun tidak terintegrasi dalam percakapan global.

Dengan narasi nasional yang konsisten, Indonesia dapat menggali potensi besar yang ada dalam gastronominya untuk memperkenalkan identitas dan nilai-nilai bangsa ke seluruh dunia. Gastronomi dan sastra adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama, yaitu cara bagi dunia untuk mengenal Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi.

Indonesia: Sebuah Cerita yang Layak Didengar

Melalui acara ini, jelas bahwa kata dan rasa adalah bahasa universal yang melampaui batas negara, suku, dan generasi. Indonesia, dengan kekayaan sastra dan gastronominya, memiliki cerita yang sangat layak didengar dan dirasakan oleh dunia.

Dengan cara ini, Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan budaya, bukan hanya untuk memperkenalkan diri di dunia, tetapi juga untuk memperkuat posisinya di panggung global sebagai negara dengan budaya yang kaya dan beragam.

Artikel Terkait
↑