BN Indonesia - Di khazanah budaya Sunda, satu kata bisa memikul dua dunia sekaligus: benda kecil yang dekat dengan keseharian, dan makna besar yang menempel pada sejarah. Patrem adalah salah satunya. Bagi sebagian orang, patrem terdengar seperti istilah untuk tusuk konde atau cucuk gelung. Namun ketika ditarik lebih jauh ke sastra dan ingatan kolektif, patrem juga hadir sebagai simbol kehormatan, keteguhan, dan daya lindung perempuan Sunda.
Di sisi lain, patrem bukan hanya kata dalam kamus atau teks roman sejarah. Patrem juga menjelma menjadi nama sebuah paguyuban sastrawati Sunda, PATREM, yang menjadi ruang berkumpul, bertumbuh, sekaligus menegaskan identitas kepengarangan perempuan. Di sinilah benang budaya, sastra, dan organisasi bertemu: satu istilah yang mula-mula terdengar sederhana, ternyata menyimpan narasi panjang tentang perempuan, karya, dan martabat.
Kisah yang sering menghidupkan narasi itu datang dari perjalanan seorang sastrawati, Chyé Rétty Isnéndés. Ia pernah menganggap syarat menjadi anggota PATREM terlalu berat karena menuntut karya cerpen yang sudah terbit di media massa dalam jumlah yang tidak sedikit. Namun, justru ketika karyanya kian sering dimuat, undangan untuk bergabung datang lebih dulu, seakan membuktikan bahwa konsistensi menulis kerap menjadi “pintu masuk” yang paling sahih.
Patrem yang Memikat Karena Indah Tapi Juga Menyimpan Keteguhan
Banyak orang mengenal patrem sebagai aksesori rambut, tetapi tidak semua tahu mengapa kata itu bisa membuat seorang mahasiswa sastra bertanya-tanya selama bertahun-tahun. Di balik bentuknya yang kecil, patrem kerap muncul dalam teks sastra dan kisah sejarah, lalu tiba-tiba memantul menjadi lambang perlawanan yang halus namun tegas.
Pengertian patrem memang tidak tunggal. Dalam percakapan sehari-hari, ia sering diasosiasikan dengan cucuk gelung, benda yang menyempurnakan sanggul sekaligus memancarkan estetika. Tetapi dalam tafsir yang lebih tua, patrem juga dipahami sebagai senjata kecil yang bisa dipakai untuk mempertahankan diri. Dua fungsi ini tidak bertabrakan, justru saling menguatkan: keindahan yang tidak rapuh, dan keteguhan yang tidak harus selalu berteriak.
Dalam sejumlah karya dan roman sejarah Sunda, patrem kerap dikaitkan dengan Putri Citraresmi dan peristiwa Palagan Bubat. Di sana, patrem hadir sebagai benda yang menyertai kehormatan, bukan sekadar properti. Tafsir ini membuat patrem bukan lagi aksesori netral, melainkan bagian dari simbolik tentang pilihan, martabat, dan garis batas yang tidak boleh dilampaui. Karena itulah kata patrem sering terasa “berbunyi” lebih keras daripada ukurannya.
Menariknya, jejak patrem juga bergerak lintas sumber: dari puisi, prosa, sampai penjelasan dalam kamus bahasa Sunda yang menyiratkan asal-usul istilah dan fungsinya pada masa lampau. Pada titik ini, patrem menjadi contoh bagaimana satu benda budaya bisa terus hidup karena terus ditafsirkan ulang. Ia tidak berhenti di museum, tetapi bergerak dari teks ke pengalaman generasi berikutnya, terutama mereka yang bergulat dengan bahasa dan sastra Sunda.
Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Sastra dan Budaya
Dari Rasa Penasaran di Kampus Sampai Undangan Masuk PATREM
Perjalanan Chyé Rétty Isnéndés memperlihatkan bagaimana sebuah istilah bisa menjadi pintu ke jejaring sastra. Saat menempuh studi pendidikan bahasa dan sastra Sunda, ia mengenal kata patrem dari perbincangan senior-senior perempuan yang aktif menulis. Rasa ingin tahu itu tidak langsung selesai karena di wilayah asalnya, ia lebih akrab dengan istilah cucuk gelung. Patrem terdengar asing, tetapi justru memancing pencarian makna yang lebih dalam.
Rasa penasaran itu kemudian bertemu dengan bacaan. Saat patrem terus muncul dalam prosa dan roman sejarah, maknanya semakin tegas: patrem tidak hanya melekat pada estetika, tetapi juga pada narasi kehormatan perempuan. Dari sana, ia melihat patrem sebagai simbol yang melampaui benda. Bahkan, kekaguman terhadap Citraresmi dan kisah Bubat menjadi pemantik lahirnya karya puisi yang mengolah memori sejarah menjadi suara puitik kontemporer.
Namun kisahnya tidak berhenti di wilayah teks. Patrem sebagai istilah kemudian beralih menjadi PATREM, sebuah paguyuban sastrawati Sunda. Di sini, patrem berubah fungsi menjadi identitas kolektif. Chyé Rétty sempat mengurungkan niat mendaftar karena syarat keanggotaan dinilai berat, yakni kebutuhan publikasi cerpen di media massa dalam jumlah yang besar. Bagi penulis muda, syarat semacam itu bisa terasa seperti tembok tinggi di awal jalan.
Yang terjadi kemudian justru menjadi ironi yang manis. Ia terus menulis, cerpennya kian sering dimuat, lalu undangan bergabung datang dari jejaring kepengarangan. Dari pengalaman itu, terlihat satu pesan penting: organisasi sastra yang sehat biasanya tidak sekadar menyeleksi, tetapi juga merangkul penulis yang konsisten membangun karya. Undangan itu seperti pengakuan diam-diam bahwa keberlanjutan kerja kreatif lebih berbobot daripada ambisi sesaat.
PATREM sebagai Ruang Perempuan Menjaga Tradisi dan Menjawab Zaman
Keberadaan PATREM tidak bisa dibaca hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ekosistem yang memungkinkan sastrawati Sunda saling menguatkan. Tantangan yang dihadapi pengurus perempuan sering kali berbeda: beban rumah tangga, pekerjaan, dan tuntutan sosial dapat membuat ritme kegiatan melambat dibanding paguyuban lain. Namun pelambatan bukan selalu tanda melemah. Kadang itu adalah cara bertahan: menjaga nyala tetap hidup meski angin tidak selalu ramah.
Dalam perkembangannya, PATREM juga menjadi jembatan lintas generasi. Ia menampung nama-nama yang membentuk sejarah kepengarangan perempuan Sunda, sekaligus membuka ruang bagi nama-nama yang muncul kemudian. Melalui pertemuan, seminar, diskusi, dan kerja kesastraan, organisasi seperti ini menyusun arsip hidup: bukan hanya daftar nama, tetapi jejak gagasan, cara pandang, dan keberanian perempuan menempatkan diri di ruang publik melalui tulisan.
Di sisi simbol, PATREM meminjam patrem sebagai lambang yang memadukan kekuatan dan keindahan. Sanggul dengan tusuk konde bukan sekadar ornamen, melainkan metafora: perempuan boleh anggun, tetapi tetap punya daya menjaga martabatnya. Dalam konteks sastra, “senjata” itu berubah bentuk menjadi kata-kata. Tulisan menjadi ruang perlawanan yang halus, tempat kehormatan dipertahankan melalui gagasan, bukan kekerasan.
Apa yang Bisa Dipetik dari Patrem dan PATREM untuk Pembaca Hari Ini
Kisah patrem mengajarkan bahwa budaya hidup melalui makna yang terus diperbarui. Sebuah benda kecil bisa menjadi jembatan menuju sejarah, sastra, dan identitas. Sementara kisah PATREM menunjukkan bahwa kerja kreatif membutuhkan komunitas yang memelihara, bukan sekadar menilai. Ketika perempuan menulis, ia bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ruang ingatan bersama, menjaga bahasa, dan mengisi masa depan dengan warisan yang tidak mudah pudar.
Di tengah perubahan zaman, pelajaran paling penting adalah ini: tradisi tidak harus berhenti di romantisme masa lalu. Ia bisa bergerak menjadi organisasi, menjadi forum, menjadi karya, dan menjadi keberanian baru. Patrem, dalam arti paling luas, mengingatkan bahwa keindahan dan keteguhan dapat berjalan beriringan, dan sastra sering menjadi cara paling elegan untuk membuktikannya.
Penulis & Editor : (Bn)
7 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·