Derivatif Crypto Kian Ramai Di Indonesia Saat Pintu Futures Klaim Lonjakan Sepanjang 2025

Sedang Trending 8 bulan yang lalu

Lonjakan Aktivitas Q4 2025 Menjadi Sinyal Pasar Baru

BN Indonesia - Tren derivatif crypto di Indonesia memasuki fase yang lebih serius, dan angkanya mulai berbicara. Di balik volatilitas yang sering bikin deg-degan, ada gelombang baru trader yang tampak makin aktif memanfaatkan strategi dua arah.

Produk Pintu Futures milik PT Pintu Kemana Saja (PINTU) mencatat pertumbuhan Monthly Trading Users (MTU) hampir 500 persen secara year on year pada kuartal IV 2025 dibanding kuartal IV 2024. Dari sisi aktivitas, lonjakan ini biasanya menandakan satu hal: lebih banyak pengguna bukan hanya “coba-coba”, tetapi mulai menjadikan futures sebagai opsi rutin ketika pasar bergerak cepat.

Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, menyebut performa tersebut tidak berhenti di jumlah pengguna. Ia mengungkapkan volume perdagangan derivatif crypto di Pintu Futures juga melompat lebih dari 370 persen pada kuartal IV 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sementara frekuensi perdagangan naik lebih dari 300 persen.

Masih di periode yang sama, PINTU mencatat kenaikan pengguna aktif sebesar 226 persen, serta frekuensi deposit naik lebih dari 450 persen. Pernyataan ini disampaikan Iskandar pada Senin, 19 Januari 2026, saat membahas bagaimana minat publik terhadap produk derivatif kian tebal—meski risikonya jelas lebih tinggi dibanding transaksi spot.

Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Crypto

Jika dibaca sebagai rangkaian, kombinasi kenaikan MTU, volume, frekuensi trading, dan deposit biasanya memperlihatkan dua arah perubahan: edukasi makin diterima dan eksekusi makin percaya diri. Namun, angka yang agresif juga sering menjadi alarm bahwa banyak trader baru masuk ke instrumen berisiko tanpa kesiapan manajemen risiko yang memadai.

Kenapa Futures Menarik Saat Pasar Tidak Ramah

Iskandar menekankan bahwa derivatif crypto membuka peluang bagi trader untuk mengoptimalkan strategi dalam berbagai kondisi pasar. Ketika harga bergerak naik, trader bisa mengambil posisi long. Ketika harga melemah, trader bisa mengambil posisi short. Fleksibilitas ini menjadi pembeda utama dibanding spot yang cenderung “lebih nyaman” saat tren bullish.

Di sisi lain, kemampuan mengambil posisi dua arah sering memicu perilaku overtrade, terutama saat pasar bergerak liar. Karena itu, penggunaan fitur manajemen risiko dan disiplin ukuran posisi menjadi faktor yang menentukan apakah futures berubah menjadi alat strategi atau justru menjadi pemicu kerugian cepat.

Untuk memperkuat kesiapan pengguna, PINTU menyediakan platform edukasi gratis melalui Pintu Academy yang dapat diakses lewat situs pintu.co.id maupun aplikasi PINTU. Keberadaan materi edukasi menjadi penting karena banyak trader pemula memahami leverage sebagai “pengganda untung”, tetapi sering melupakan bahwa leverage juga memperbesar dampak salah analisis.

Fitur dan Pilihan Aset Menjadi Senjata Persaingan

Dari sisi produk, Pintu Futures melengkapi layanan dengan berbagai fitur yang ditujukan untuk meningkatkan kontrol trader saat bertransaksi. Fitur yang disorot antara lain advanced order type, initial margin buffer, adjustable leverage hingga 25 kali, price protection, serta Take Profit dan Stop Loss. Dalam praktiknya, kombinasi fitur ini membantu trader mengeksekusi rencana tanpa harus terus-menerus menatap chart, sekaligus menjaga batas kerugian ketika pasar bergerak melawan posisi.

Pilihan aset juga menjadi faktor yang sering menentukan apakah trader bertahan atau pindah platform. PINTU menyebut pengguna dapat melakukan trading lebih dari 180 aset crypto di Pintu Futures. Bagi trader aktif, keragaman aset memberi ruang untuk memilih pasangan yang likuid, mengejar volatilitas tertentu, atau menghindari aset yang pergerakannya terlalu “liar” untuk profil risiko mereka.

Untuk mendorong onboarding, PINTU menawarkan reward dalam bentuk stablecoin USDT hingga Rp 2 juta bagi pengguna yang melakukan trading pertama kali di Pintu Futures. Insentif seperti ini lazim dipakai untuk menurunkan hambatan awal, tetapi tetap perlu diimbangi edukasi, karena reward tidak akan menutup risiko jika strategi dan pengendalian emosi tidak matang.

Gambar Besar 2025 Global Meledak Indonesia Masih Punya Ruang

Secara global, pasar derivatif crypto memang tumbuh masif. Dikutip dari Coinglass, total perdagangan derivatif crypto sepanjang 2025 mencapai 85,70 triliun dolar AS atau sekitar Rp 1.445 kuadriliun. Angka ini menunjukkan betapa dominannya instrumen derivatif dalam ekosistem kripto dunia, terutama karena futures menjadi “arena utama” bagi trader yang mengejar pergerakan harga jangka pendek.

Namun jika dibandingkan dengan skala Indonesia, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar. Secara nasional, perdagangan derivatif crypto menurut bursa kripto CFX pada periode September 2024 hingga September 2025 tercatat Rp 73,8 triliun. Bagi pasar yang populasinya besar dan penetrasi digitalnya terus naik, angka ini memberi sinyal bahwa adopsi futures belum mencapai puncak—tetapi arah minatnya sudah terlihat.

Perbedaan skala tersebut juga menegaskan tantangan lokal: literasi risiko, kesiapan regulasi dan infrastruktur, serta kebutuhan perlindungan konsumen. Ketika instrumen “high risk high return” makin populer, pasar memerlukan standar edukasi dan praktik manajemen risiko yang lebih ketat agar pertumbuhan tidak dibarengi lonjakan kasus kerugian ekstrem.

Takeaways Risiko Tinggi Butuh Disiplin Lebih Tinggi

Iskandar mengingatkan bahwa derivatif crypto bersifat high risk high return. Ia menekankan pentingnya persiapan matang sebelum trading futures, memperketat manajemen risiko, dan melakukan Do Your Own Research (DYOR), karena keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing trader atau investor.

Dalam konteks pertumbuhan Pintu Futures, pesan ini relevan karena lonjakan pengguna sering memunculkan dua kelompok: trader yang sudah berpengalaman dan trader baru yang tertarik karena tren. Bagi kelompok kedua, strategi sederhana seperti membatasi leverage, memakai Stop Loss yang jelas, dan menetapkan rencana keluar sebelum masuk posisi sering lebih berdampak dibanding mengejar “sekali tembak” profit besar.

Pada akhirnya, angka pertumbuhan MTU, volume, dan frekuensi transaksi memperlihatkan bahwa derivatif crypto bukan lagi produk pinggiran di Indonesia. Namun, futures hanya akan menjadi alat yang sehat jika pasar menempatkan edukasi, disiplin, dan kontrol risiko setara dengan ambisi profit. Tanpa itu, lonjakan aktivitas bisa berubah menjadi cerita lain: ramai di awal, sepi setelah badai volatilitas pertama.

Penulis & Editor : (Bn)

Artikel Terkait
↑