BN Indonesia - Harga bitcoin kembali menjadi sorotan global setelah mencatat penurunan tajam yang memicu kekhawatiran baru di pasar aset digital. Dalam beberapa hari terakhir, mata uang kripto terbesar di dunia itu tergelincir ke kisaran US$70.000-an, memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa, melainkan fase tekanan yang menggambarkan perubahan sentimen investor terhadap aset berisiko di tengah lanskap ekonomi dan geopolitik yang makin kompleks.
Harga Tertekan di Tengah Gejolak Global
Bitcoin kembali diuji di area psikologis yang krusial. Pergerakan harga yang cepat dan dalam memancing pertanyaan besar: apakah ini peluang akumulasi atau awal dari fase penurunan yang lebih panjang.
Pada Kamis (4/2/2026), bitcoin menyentuh level terendah harian di sekitar US$70.575 sebelum stabil tipis di kisaran US$70.800. Dalam hitungan hari, nilainya terkoreksi lebih dari 8 persen dan kini sudah lebih dari 40 persen di bawah rekor tertingginya sekitar US$126.000 yang tercapai pada Oktober tahun lalu. Pelemahan tiga hari berturut-turut ini menegaskan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Penurunan tersebut juga membawa bitcoin menembus ke bawah US$73.000 pada awal pekan, level yang menandai harga terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir. Area ini berdekatan dengan harga pra-pemilu Amerika Serikat, sehingga banyak pelaku pasar melihatnya sebagai zona referensi penting untuk membaca arah berikutnya. Sejumlah analis menilai US$70.000 sebagai batas krusial yang akan menentukan apakah pasar mampu bertahan atau justru masuk fase penurunan lanjutan.
Dari sudut pandang teknikal, pelemahan tajam ini memicu likuidasi posisi dengan leverage tinggi. Saat harga bergerak cepat menembus level support, tekanan jual otomatis meningkat, menciptakan efek berantai yang memperdalam koreksi. Kondisi tersebut membuat volatilitas melonjak, sekaligus menguji kesabaran investor jangka panjang.
Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Crypto
Sentimen Investor Berubah Arah
Salah satu pemicu utama tekanan pada bitcoin adalah perubahan preferensi investor global. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Eropa yang memanas akibat manuver politik terkait Greenland, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Rotasi dana ke instrumen yang dianggap lebih aman menjadi respons wajar saat ketidakpastian meningkat.
Selain faktor geopolitik, dinamika ekonomi Amerika Serikat turut berperan. Berakhirnya penutupan sebagian pemerintahan AS memang membuka jalan bagi rilis data ekonomi yang sempat tertunda, namun pada saat yang sama menambah kehati-hatian pasar. Ketidakjelasan arah kebijakan fiskal dan moneter membuat pelaku pasar memilih menunggu, alih-alih menambah posisi pada aset volatil seperti kripto.
Ekspektasi perubahan kebijakan moneter juga membayangi pergerakan bitcoin. Nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua bank sentral AS memunculkan spekulasi baru tentang arah suku bunga dan likuiditas ke depan. Setiap sinyal pengetatan atau penyesuaian kebijakan berpotensi mengurangi daya tarik aset yang tidak menghasilkan imbal hasil tetap, termasuk bitcoin.
Peran ETF dan Arus Keluar Dana Institusional
Tekanan terhadap harga bitcoin semakin terasa dengan derasnya arus keluar dana institusional. Produk exchange-traded fund bitcoin spot mencatat penarikan dana dalam skala besar selama beberapa bulan terakhir. Sepanjang Januari saja, arus keluar diperkirakan melebihi US$3 miliar, menyusul sekitar US$2 miliar pada Desember dan sekitar US$7 miliar pada November.
Arus keluar ini terjadi setelah gelombang likuidasi posisi kripto berleverage tinggi pada Oktober lalu. Ketika investor institusional mengurangi eksposur, likuiditas pasar ikut tergerus. Dampaknya terasa langsung pada harga, karena tekanan jual tidak diimbangi dengan minat beli yang sepadan.
Sejumlah lembaga keuangan menilai aksi keluar dana ini didorong oleh ekspektasi koreksi yang lebih dalam. Dengan volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian makro yang belum mereda, banyak manajer aset memilih mengamankan keuntungan atau membatasi risiko. Langkah defensif ini memperkuat tren pelemahan jangka pendek.
Dampak Merembet ke Saham Terkait Kripto
Pelemahan bitcoin tidak berdiri sendiri. Saham-saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital ikut tertekan. Perusahaan treasury bitcoin seperti Strategy mencatat penurunan sekitar 5 persen, sementara saham penambang kripto seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11 persen dalam satu sesi perdagangan.
Penurunan ini mencerminkan korelasi yang kuat antara harga bitcoin dan valuasi perusahaan terkait. Ketika harga aset dasar melemah, proyeksi pendapatan dan arus kas ikut direvisi, sehingga investor menyesuaikan valuasi saham. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana gejolak di pasar kripto dapat merembet ke pasar saham.
Bagi investor ritel, situasi ini menjadi pengingat bahwa eksposur tidak langsung ke kripto melalui saham tetap mengandung risiko yang signifikan. Fluktuasi harga bitcoin dapat berdampak cepat pada kinerja emiten, terutama yang model bisnisnya sangat bergantung pada harga aset digital.
Membaca Arah Selanjutnya
Meski tekanan saat ini terasa berat, sejumlah analis menilai fase koreksi juga membuka ruang untuk konsolidasi yang lebih sehat. Area US$70.000 dipandang sebagai titik uji penting. Jika mampu bertahan dan menarik minat beli baru, pasar berpotensi membangun fondasi untuk pemulihan bertahap.
Namun, risiko penurunan lanjutan tetap ada apabila sentimen global memburuk atau kebijakan moneter bergerak ke arah yang lebih ketat. Investor disarankan mencermati kombinasi faktor makro, arus dana institusional, dan dinamika regulasi yang dapat memengaruhi pasar kripto dalam beberapa bulan ke depan.
Pada akhirnya, pergerakan bitcoin saat ini menegaskan sifatnya sebagai aset berisiko tinggi yang sensitif terhadap perubahan sentimen global. Bagi sebagian pelaku pasar, volatilitas ini adalah peluang. Bagi yang lain, ini menjadi peringatan untuk mengelola risiko dengan lebih disiplin. Apa pun pilihannya, fase “berdarah-darah” ini akan menjadi bab penting dalam perjalanan bitcoin sebagai aset global.
Penulis & Editor : (Bn)
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·