Zocalo Jadi Panggung Mega Ofrenda 700 Tahun Tenochtitlan
BN Indonesia — Bayangkan alun-alun paling ikonik di Mexico City tiba-tiba berubah menjadi “karpet” oranye raksasa. Bukan sekadar dekorasi, hamparan marigold itu menyimpan pesan sejarah, ritual, dan cara sebuah kota merayakan ingatan.
Di Zocalo Square, ribuan bunga marigold Meksiko atau cempasuchil disusun membentuk pola yang merujuk pada Tenochtitlan, kota kuno yang menjadi akar peradaban setempat. Instalasi bunga ini hadir bersamaan dengan perayaan Day of the Dead, tradisi penghormatan pada arwah yang selalu memadukan duka, doa, dan pesta warna.
Momentum tahun ini terasa lebih besar karena bertepatan dengan peringatan 700 tahun berdirinya Tenochtitlan. Di ruang yang sama, warga lokal, wisatawan, dan keluarga datang untuk memotret, berjalan pelan di sela jalur yang disiapkan, hingga sekadar berdiri lama menatap pola bunga yang dibuat seperti peta memori.
Suasana siang hari pun punya dramanya sendiri. Ada yang bersepeda melewati area sekitar, ada anak-anak yang berhenti untuk mengamati bunga dari jarak dekat, dan ada pengunjung yang sengaja berpose di tengah hamparan oranye itu. Zocalo tidak hanya menjadi latar foto, tetapi juga panggung publik yang mempertemukan tradisi dan rasa ingin tahu generasi baru.
Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Travel
Mengapa Marigold Selalu Hadir di Hari Arwah
Cempasuchil bukan dipilih karena cantik semata. Dalam tradisi Day of the Dead, marigold kerap dianggap sebagai “penunjuk jalan” bagi arwah. Warna oranye yang menyala dan aromanya yang kuat dipercaya membantu menghadirkan suasana sakral, sekaligus menandai bahwa ruang itu dipersiapkan untuk menyambut yang tak terlihat.
Di banyak keluarga, marigold biasanya hadir di altar rumah, di makam, atau di jalanan kecil menuju tempat doa. Ketika tradisi ini dibawa ke skala raksasa di pusat kota, efeknya berubah menjadi pengalaman kolektif: orang-orang yang mungkin tak saling kenal bisa merasakan suasana yang sama, seolah kota memberi jeda dari ritme harian untuk mengingat keluarga, sejarah, dan identitas.
Menariknya, simbol marigold juga membuka pintu edukasi budaya. Anak-anak yang datang tidak hanya melihat keramaian, tetapi belajar bahwa penghormatan leluhur bisa dilakukan dengan cara yang hangat dan artistik. Day of the Dead mengajarkan bahwa “mengingat” tidak selalu harus sunyi; ia bisa penuh warna, musik, dan kebersamaan.
Instalasi Bunga Mengubah Tradisi Menjadi Daya Tarik Kota
Ketika alun-alun utama disulap menjadi taman bunga raksasa, kota secara otomatis menciptakan magnet wisata. Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat satu objek, melainkan untuk mengalami suasana: kerumunan yang tertib, aroma bunga yang menempel di udara, dan pola visual yang terasa “hidup” saat dilihat dari sudut berbeda.
Dari sisi pariwisata, format seperti ini memindahkan budaya dari ruang tertutup ke ruang publik yang mudah diakses. Tidak semua orang sempat mengunjungi museum atau acara khusus, tetapi banyak yang bisa mampir ke alun-alun. Dampaknya berlapis: pelaku usaha sekitar mendapat arus pengunjung, pekerja kreatif punya panggung, dan kota mendapatkan narasi positif yang menyebar cepat melalui foto serta video.
Namun ada aspek lain yang tak kalah penting: instalasi skala besar memaksa kota mengelola detail teknis. Mulai dari logistik bunga, jalur pergerakan massa, kebersihan, hingga keamanan, semuanya menjadi ujian yang menentukan apakah perayaan terasa nyaman atau justru melelahkan. Ketika rapi, publik merasakan bahwa tradisi dihormati secara serius, bukan sekadar dibuat viral.
700 Tahun Tenochtitlan dan Cara Kota Modern Mengingat Masa Lalu
Perayaan 700 tahun Tenochtitlan memberi konteks yang lebih dalam: ini bukan hanya tentang Day of the Dead, tetapi juga tentang memori kota. Tenochtitlan tidak sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah fondasi identitas yang terus bergeser, dari peradaban Aztec hingga Mexico City modern yang padat dan bergerak cepat.
Pola yang dibentuk dari hamparan marigold memberi pesan visual yang mudah dipahami: sejarah tidak harus disampaikan lewat teks panjang. Kota bisa “berbicara” lewat seni publik, dan warga bisa merespons dengan cara yang personal—berfoto, merenung, atau sekadar mengingat cerita yang pernah mereka dengar dari keluarga.
Di tengah instalasi, hal-hal kecil juga mendapat makna besar. Misalnya, kemunculan kupu-kupu yang hinggap di kelopak marigold kerap ditafsirkan sebagai simbol kedatangan arwah dalam kepercayaan populer. Momen semacam itu membuat perayaan terasa dekat, bukan abstrak. Orang datang untuk melihat bunga, tetapi pulang membawa pengalaman yang lebih emosional.
Apa yang Bisa Dipetik Wisatawan dan Kota Lain
Bagi wisatawan, momen di Zocalo menawarkan pelajaran sederhana: jangan melihat Day of the Dead sebagai pesta kostum belaka. Ada lapisan spiritual dan sejarah yang membuat setiap elemen—bunga, warna, pola, hingga lokasi—punya alasan. Datang dengan rasa hormat akan membuat pengalaman jauh lebih kaya daripada sekadar berburu foto.
Bagi kota-kota lain, instalasi marigold di ruang publik memberi contoh bahwa budaya lokal bisa diangkat menjadi event besar tanpa kehilangan ruhnya, asalkan perencanaannya matang dan narasinya jelas. Tradisi yang kuat, bila dikemas dengan seni dan tata kelola keramaian yang baik, mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus pendidikan publik.
Pada akhirnya, hamparan marigold di Zocalo menunjukkan satu hal: sebuah kota bisa merayakan ingatan tanpa terjebak nostalgia. Dengan memadukan ritual, sejarah, dan ruang publik, Mexico City memberi cara baru untuk “mengajak pulang” masa lalu—bukan untuk disimpan, tetapi untuk dirayakan bersama.
Penulis & Editor : (Bn)
11 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·