BN Indonesia - menyoroti perdebatan klasik di dunia kesehatan dan kebugaran: apakah benar orang bertulang besar lebih sulit menurunkan berat badan? Istilah “tulang besar” sering dijadikan alasan ketika seseorang merasa berat badannya sulit turun meski sudah berusaha keras. Namun, apakah faktor ini benar-benar memiliki pengaruh signifikan terhadap timbangan, atau hanya sekadar mitos yang diwariskan turun-temurun? Artikel ini akan membahas secara ilmiah dan komprehensif mengenai kebenaran di balik istilah tersebut.
Asal-Usul Istilah “Tulang Besar” dan Persepsi Publik
Istilah “bertulang besar” sudah lama beredar di masyarakat dan sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan bentuk tubuh seseorang. Orang yang memiliki bahu lebar, pergelangan tangan besar, atau struktur tubuh yang tampak kokoh sering dianggap memiliki “tulang besar”. Dalam banyak kasus, hal ini juga dijadikan pembenaran mengapa berat badan mereka tampak lebih tinggi dari rata-rata meskipun tidak tampak gemuk secara visual.
Menurut penelusuran BN Indonesia, istilah ini tidak sepenuhnya keliru, karena setiap orang memang memiliki kerangka tubuh yang berbeda. Ada individu dengan struktur tulang kecil (small frame), sedang (medium frame), hingga besar (large frame). Namun, perbedaan berat tulang antar kategori tersebut tidak terlalu signifikan untuk menjelaskan perbedaan berat badan yang besar.
Penelitian dari American Council on Exercise (ACE) menyebutkan bahwa berat tulang manusia rata-rata hanya menyumbang sekitar 15% dari total berat badan. Artinya, meskipun seseorang memiliki tulang yang lebih besar dari rata-rata, perbedaannya hanya berkisar 2–3 kilogram, bukan puluhan kilogram seperti yang sering diyakini masyarakat.
Apa Kata Sains tentang Berat Tulang dan Lemak Tubuh
Secara medis, berat badan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh komposisi tubuh, bukan ukuran tulang. Komposisi tubuh terdiri atas massa lemak, otot, air, dan tulang. Dari semua komponen itu, lemak dan otot adalah faktor terbesar yang menentukan angka di timbangan.
Studi yang dikutip BN Indonesia dari jurnal Journal of Bone and Mineral Research (2021) menjelaskan bahwa meski tulang orang bertubuh besar memang memiliki densitas lebih tinggi, perbedaan bobotnya hanya sekitar 3–5% dibandingkan tulang orang bertubuh kecil. Dengan demikian, alasan “tulang besar” sulit menurunkan berat badan tidak sepenuhnya benar secara ilmiah.
Faktor utama yang membuat berat badan sulit turun biasanya adalah pola makan yang tidak terkontrol, aktivitas fisik yang kurang, serta metabolisme tubuh yang lambat. Metabolisme bisa dipengaruhi oleh usia, hormon, genetik, hingga kebiasaan tidur. Oleh karena itu, jika seseorang merasa tidak mengalami penurunan berat badan meskipun sudah berusaha, penyebabnya kemungkinan besar berasal dari gaya hidup, bukan ukuran tulang.
Selain itu, persepsi terhadap tubuh juga memainkan peran penting. Banyak orang yang memiliki massa otot lebih tinggi—misalnya karena sering berolahraga—merasa “gemuk” padahal sebenarnya tubuh mereka lebih padat dan sehat. Inilah mengapa angka di timbangan tidak selalu mencerminkan kondisi tubuh sesungguhnya.
Bagaimana Mengetahui Ukuran Kerangka Tubuh yang Sebenarnya

Jika ingin memastikan apakah Anda benar-benar memiliki tulang besar, ada cara sederhana yang bisa dilakukan. Menurut panduan yang dikutip oleh BN Indonesia dari Mayo Clinic, ukuran kerangka tubuh dapat diukur dengan lingkar pergelangan tangan dibandingkan dengan tinggi badan.
Sebagai contoh:
-
Untuk wanita dengan tinggi 150–160 cm, lingkar pergelangan tangan kurang dari 14 cm termasuk small frame, 14–16 cm medium frame, dan lebih dari 16 cm large frame.
-
Untuk pria dengan tinggi yang sama, batasannya sedikit lebih besar, dengan large frame jika pergelangan tangan lebih dari 17 cm.
Namun, perlu diingat bahwa perbedaan frame tubuh tidak menentukan proporsi lemak atau kesehatan seseorang. Orang bertulang besar tetap bisa memiliki tubuh ideal dengan pola makan sehat dan olahraga rutin. Fokus yang lebih penting bukan pada “jenis tulang”, tetapi pada komposisi lemak dan otot tubuh secara keseluruhan.
Keseimbangan Pola Hidup, Kunci Berat Badan Ideal
Daripada mengandalkan alasan “tulang besar”, langkah yang lebih efektif adalah memahami gaya hidup sehat yang realistis. Ahli gizi yang diwawancarai BN Indonesia menekankan pentingnya keseimbangan antara kalori masuk dan kalori yang dibakar. Jika asupan energi lebih besar dari pengeluaran, maka berat badan akan naik—terlepas dari besar atau kecilnya tulang seseorang.
Untuk menurunkan berat badan secara efektif, fokuskan pada:
-
Pola makan seimbang: perbanyak sayur, protein tanpa lemak, dan batasi gula serta karbohidrat olahan.
-
Olahraga teratur: gabungkan latihan kardio dengan latihan kekuatan agar pembakaran kalori optimal.
-
Tidur cukup dan manajemen stres: dua faktor ini sering diabaikan, padahal sangat memengaruhi metabolisme tubuh.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penurunan berat badan akan lebih konsisten dan sehat tanpa perlu menyalahkan faktor genetik atau struktur tubuh.
“Tulang Besar” Bukan Penghalang untuk Turunkan Berat Badan
Kesimpulan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa istilah “tulang besar” lebih bersifat deskriptif daripada determinan. Artinya, meski ukuran tulang seseorang bisa sedikit memengaruhi berat badan, dampaknya tidak cukup besar untuk dijadikan alasan utama kesulitan menurunkan berat badan.
Faktor terbesar tetap terletak pada pola hidup, nutrisi, dan aktivitas fisik. Dengan pemahaman yang tepat dan disiplin menjalankan gaya hidup sehat, siapa pun dapat mencapai berat badan ideal tanpa terjebak pada mitos lama. Jadi, jika Anda merasa memiliki “tulang besar”, jangan khawatir—yang terpenting adalah menjaga tubuh tetap aktif, bugar, dan seimbang.
Penulis dan Editor (Bn)
Refrensi Berita (cnnindonesia.com)
11 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·