Lembang yang Dulu Jadi Primadona Wisata Kini Dikejar Banjir
BN Indonesia - Lembang dikenal sebagai “tempat kabur” favorit dari panasnya kota, tetapi belakangan satu pertanyaan terus muncul setiap hujan deras datang: kenapa jalannya cepat sekali berubah seperti sungai? Genangan bisa tinggi, arusnya deras, dan kendaraan pun memilih menyerah.
Secara sejarah, Lembang memang tumbuh sebagai kawasan peristirahatan sejak era kolonial. Udara sejuk, kebun-kebun, dan lanskap pegunungan menjadikannya magnet wisata sekaligus ruang hidup yang terasa “ringan” untuk ditinggali. Namun, wajah itu perlahan bergeser ketika tekanan pembangunan, mobilitas wisata, dan perubahan tata ruang berjalan lebih cepat daripada kemampuan lingkungan menyerap air.
Hari ini, banjir menjadi musibah yang paling sering dirasakan warga. Beberapa ruas yang sering disebut warga sebagai titik rawan antara lain koridor jalan utama yang menghubungkan area wisata, pasar, dan permukiman. Begitu hujan intens turun, aliran air permukaan berkejaran menuju titik terendah, lalu menumpuk di jalur arteri yang seharusnya menjadi ruang lalu lintas, bukan ruang tampungan air.
Keluhan warga juga nyaris seragam: air datang cepat, surutnya lama, dan pola kejadiannya makin sering. Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan sekadar “hujan besar”, melainkan rangkaian sebab yang saling mengunci dari hulu sampai hilir.
Baca Juga Berita Lain: Informasi Tentang Berita Travel
Drainase Kewalahan Saat Debit dari Hulu Menggila
Salah satu sumber persoalan yang kerap disorot warga adalah kapasitas drainase yang tidak lagi sebanding dengan debit air yang datang. Ketika hujan deras mengguyur, air dari kawasan hulu mengalir cepat ke bawah. Jika saluran hilir sempit, tersumbat, atau tidak terhubung dengan baik, air akan mencari jalannya sendiri: meluap ke badan jalan, masuk ke sela permukiman, dan membentuk genangan yang mengganggu aktivitas warga maupun wisatawan.
Relawan kebencanaan setempat, Dedang Kurnia, pernah menyoroti perubahan fungsi dan konfigurasi saluran sebagai faktor penting. Ia menyebut ada jalur drainase yang dulu membantu membagi aliran dari hulu agar tidak menumpuk di satu saluran, tetapi kini tidak lagi berfungsi. Akibatnya, beban mengalir pada jalur yang tersisa, dan saluran pun mudah “kalah” saat hujan berintensitas tinggi.
Dalam bahasa sederhana, ini seperti memindahkan semua kendaraan dari dua jalur menjadi satu jalur, lalu berharap kemacetan tidak terjadi. Ketika satu jalur itu macet, dampaknya tidak berhenti di titik macet saja, tetapi merembet ke seluruh koridor yang terhubung.
Resapan Menyusut Ketika Lahan Berubah Lebih Cepat dari Alam
Masalah drainase sering terlihat di permukaan, tetapi akar persoalannya banyak terjadi jauh di atas: perubahan tutupan lahan di wilayah hulu. Lembang dan kawasan sekitarnya mengalami percepatan alih fungsi lahan, dari area hijau dan ruang resapan menjadi bangunan, kafe, tempat wisata, hingga hunian. Ketika tanah tertutup permukaan keras, air hujan tidak sempat meresap, lalu berubah menjadi limpasan yang langsung mengalir ke saluran.
Inilah yang membuat banjir terasa “lebih sering” walau hujan tidak selalu ekstrem. Dengan resapan yang menyempit, hujan sedang pun bisa menghasilkan limpasan besar. Air seperti dipaksa turun sekaligus, bukan dilepas perlahan oleh tanah dan vegetasi. Dalam jangka panjang, pola ini bukan hanya memperparah banjir, tetapi juga meningkatkan risiko longsor di titik-titik tertentu ketika lereng kehilangan penahan alaminya.
Di sisi lain, perkembangan wisata membawa konsekuensi tambahan: bertambahnya kendaraan dan aktivitas di koridor utama. Ketika jalan tergenang, dampaknya cepat menjadi isu keselamatan dan ekonomi. Wisatawan tertahan, distribusi barang terganggu, dan warga yang bekerja di sektor pariwisata ikut merasakan penurunan pendapatan pada hari-hari gangguan.
Kenapa Genangan Terlihat Parah di Jalan Utama
Jalan raya sering menjadi “korban pertama” karena posisinya biasanya lebih rendah dari area sekitarnya dan menjadi jalur alami aliran permukaan. Ketika saluran tepi jalan sempit atau tertutup sedimen, air tidak punya ruang untuk masuk dan dialirkan. Genangan pun terbentuk di badan jalan, lalu membuat kendaraan mengurangi kecepatan secara drastis atau berhenti total.
BPBD setempat juga pernah menekankan aspek daya dukung dan daya tampung saluran yang tidak memadai. Kalimat ini penting, karena berarti masalahnya bukan hanya kebersihan drainase, melainkan desain kapasitasnya: apakah saluran dirancang untuk skenario hujan hari ini, atau masih memakai “ukuran lama” saat resapan masih luas dan limpasan jauh lebih kecil.
Solusi Bukan Sekadar Normalisasi, Tetapi Menata Ulang Sistemnya
Jika targetnya mengurangi banjir secara nyata, perbaikan perlu dilakukan sebagai sistem, bukan tambal-sulam. Pertama, audit teknis drainase dari hulu ke hilir harus memetakan titik sempit, titik putus, dan titik yang kehilangan fungsi. Bila memang dulu ada pembagian jalur aliran yang kini tidak aktif, maka mengembalikan fungsi pembagi itu dapat membantu menurunkan beban pada satu saluran utama.
Kedua, pembesaran kapasitas pada segmen kritis harus diikuti dengan pengendalian sedimen dan sampah. Saluran yang lebih besar pun akan kembali kewalahan jika aliran tersumbat. Di saat yang sama, perlu ada strategi menahan air di hulu: pemulihan ruang resapan, penataan kawasan wisata agar lebih ramah air, serta penerapan aturan bangunan yang mendorong penggunaan permukaan berpori dan area hijau.
Ketiga, kajian independen dari akademisi, seperti yang diusulkan sebagian warga, bisa menjadi penguat keputusan. Bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan memastikan rekomendasi berbasis data, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini juga membantu membangun kepercayaan publik bahwa penanganan banjir tidak berhenti pada respons darurat, tetapi masuk ke pencegahan jangka panjang.
Takeaways untuk Warga, Wisata, dan Pemerintah
Banjir di Lembang bukan cerita satu penyebab. Ia lahir dari kombinasi curah hujan, drainase yang tidak lagi sebanding, serta perubahan tata guna lahan yang mengurangi resapan. Karena itu, solusinya pun harus kombinatif: memperbaiki kapasitas dan jalur drainase, memulihkan fungsi pembagi aliran, dan menahan limpasan sejak dari hulu melalui pengendalian pembangunan serta perlindungan ruang hijau.
Bagi kawasan wisata, ini juga soal reputasi. Wisata yang nyaman bukan hanya soal kafe dan pemandangan, tetapi juga soal akses yang aman ketika cuaca buruk. Jika penanganan banjir dilakukan serius, Lembang bisa kembali menjadi destinasi yang tidak hanya indah saat cerah, tetapi juga tangguh saat hujan.
Penulis & Editor : (Bn)
11 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·